
Lebih dari sekadar makanan, tempe merupakan ekspresi budaya yang tumbuh dari pengetahuan lokal tentang fermentasi, pengelolaan bahan pangan, dan adaptasi terhadap lingkungan. Proses pembuatannya yang diwariskan lintas generasi mencerminkan kecerdasan kolektif masyarakat Nusantara dalam mengolah sumber daya alam secara sederhana namun bernilai tinggi. Di balik setiap lembar tempe, tersimpan praktik tradisional, kebiasaan sosial, serta nilai kebersamaan yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.
Dalam konteks ini, tempe juga menjadi simbol ketahanan budaya. Ia bertahan melintasi zaman, perubahan selera, dan modernisasi, tanpa kehilangan akar tradisinya. Justru, tempe mampu bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, baik melalui inovasi olahan maupun penerimaannya di pasar global. Fleksibilitas inilah yang menjadikan tempe relevan sebagai warisan budaya takbenda yang hidup dan dinamis.
Menurut Fadli Zon, budaya tempe melibatkan sekitar 170.000 komunitas tempe dengan total pekerja mencapai 1,5 juta orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa tempe bukan sekadar produk pangan, melainkan ekosistem sosial dan ekonomi yang menghidupi jutaan masyarakat, dari produsen kedelai, perajin tempe rumahan, hingga pelaku distribusi dan kuliner. Jaringan yang luas ini memperlihatkan betapa tempe telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Pengakuan dari UNESCO diharapkan tidak hanya memberikan legitimasi internasional terhadap budaya tempe, tetapi juga menjadi instrumen perlindungan bagi nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan pengakuan tersebut, praktik pembuatan tempe, pengetahuan fermentasi tradisional, serta peran komunitas di baliknya dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Lebih jauh, pengakuan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas nasional.
Pada akhirnya, tempe hadir sebagai bukti bahwa budaya tidak selalu diwujudkan dalam bentuk artefak besar atau ritual megah. Dalam kesederhanaannya, tempe justru menyimpan kekuatan narasi tentang kebersamaan, keberlanjutan, dan kearifan lokal. Melalui tempe, Indonesia menawarkan kepada dunia sebuah cerita tentang bagaimana makanan dapat menjadi pengikat sosial, penanda identitas, sekaligus jembatan budaya antarbangsa.