Mengubah Persepsi dan Diplomasi Kuliner Tempe

Sumber Gambar : Kompas

Lebih dari sekadar makanan, tempe merupakan ekspresi budaya yang tumbuh dari pengetahuan lokal tentang fermentasi, pengelolaan bahan pangan, dan adaptasi terhadap lingkungan. Proses pembuatannya yang diwariskan lintas generasi mencerminkan kecerdasan kolektif masyarakat Nusantara dalam mengolah sumber daya alam secara sederhana namun bernilai tinggi. Di balik setiap lembar tempe, tersimpan praktik tradisional, kebiasaan sosial, serta nilai kebersamaan yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengajak masyarakat luas untuk mengubah persepsi lama yang kerap melekat pada tempe sebagai makanan “murahan” atau sekadar lauk pelengkap. Menurutnya, stigma tersebut lahir dari kebiasaan dan konstruksi sosial yang menempatkan tempe sebagai pangan kelas bawah, padahal nilai gizi dan makna budaya yang dikandungnya justru sangat tinggi. Tempe merupakan sumber protein nabati yang penting, kaya akan serat, vitamin, serta hasil fermentasi alami yang baik bagi kesehatan, sehingga layak mendapatkan penghormatan yang setara dengan bahan pangan lain yang lebih dulu diposisikan sebagai makanan prestisius.

Lebih jauh, Fadli Zon menekankan bahwa perubahan cara pandang ini perlu diiringi dengan keberanian untuk melakukan inovasi kuliner. Tempe tidak harus selalu hadir dalam bentuk tradisional, tetapi dapat diolah menjadi beragam sajian kreatif yang relevan dengan selera dan gaya hidup modern. Inovasi tersebut bukan hanya soal estetika dan rasa, melainkan juga tentang mengangkat nilai tempe sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang adaptif dan berdaya saing.

Dalam konteks global, ia mendorong agar tempe dipandang sebagai alat diplomasi kuliner atau gastro diplomacy. Melalui pendekatan ini, makanan digunakan sebagai medium untuk memperkenalkan budaya, membangun citra positif bangsa, serta membuka dialog lintas negara. Chef, pelaku kuliner, dan industri kreatif memiliki peran strategis untuk menciptakan kreasi berbasis tempe yang mampu tampil di restoran internasional, festival kuliner dunia, hingga forum-forum diplomasi budaya.

Dengan menempatkan tempe sebagai bagian dari gastro diplomasi, Indonesia tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga cerita tentang kearifan lokal, keberlanjutan, dan kreativitas masyarakatnya. Upaya ini diharapkan dapat mengangkat tempe dari pangan sehari-hari menjadi simbol kebanggaan nasional yang dihargai secara global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percakapan kuliner dunia.


Create By : Admin
Artikel Lainnya