
Harganya yang relatif murah dan mudah diperoleh menjadikan popularitas tempe terus meroket. Belum lagi kandungan di dalam tempe yang bisa menyokong gaya hidup sehat, membuat makanan ini semakin diterima oleh masyarakat luas.
Namun, kandungan zat gizi dalam setiap tempe tidaklah sama jika dalam proses pembuatannya tidak mengikuti standar acuan yang berlaku.
Made Astawan, Tutik Wresdiyati, dan Lulu Maknun dalam buku Tempe: Sumber Zat Gizi dan Komponen Bioaktif untuk Kesehatan menyebut adanya dua standar mutu Untuk tempe, yaitu standar nasional (SNI) dan standar internasional (Codex). Selain untuk menjamin mutu tempe, yang dalam hal ini memberi nilai tambah bagi konsumen, penerapan standar itu juga bisa membantu produk perajin tempe bersaing di level yang lebih tinggi.
Dalam buku terbitan PT Penerbit IPB Press tersebut, Made Astawan dan kawan-kawan menyebutkan bahwa kandungan zat gizi tempe dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kandungan zat gizi awal pada kedelai yang dijadikan sebagai bahan baku utama; kualitas bahan lain (bahan tambahan) yang digunakan, seperti air dan kultur starter; tahapan proses produksi yang diterapkan; serta penerapan sanitasi dan higiene selama proses produksi dan distribusi tempe.
Nah, kalau ada standar acuan, pastinya tempe yang siap dikonsumsi juga punya mutu yang lebih terjamin, dong … setuju? [*]