Sumber Gambar : Tangakapan layar Instagram @indonesiainchicago
Kemajuan teknologi dan modernisasi membuat berbagai aktivitas dan pekerjaan manusia bisa dijalankan dengan lebih mudah, praktis, dan tentu lebih cepat. Namun, di tengah semua kemajuan itu, kita masih menghadapi tantangan soal ketahanan pangan, kekurangan gizi, dan ketimpangan distribusi makanan. Salah satu produk pangan tradisional yang berpotensi mengurai masalah itu adalah tempe, makanan khas Indonesia yang kaya akan nutrisi.
Tempe bisa jadi contoh bahwa makanan tradisional dapat dioptimalkan melalui teknologi modern dan membantu mengatasi masalah pangan. Pengembangan berbagai varian tempe, seperti tempe fortifikasi dengan penambahan bahan lain yang bermanfaat bagi tubuh, dapat menjadi alternatif solusi dalam melawan kekurangan gizi. Sementara itu, kemajuan teknologi pangan telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan memperpanjang umur simpan makanan.
Terkait hal tersebut, baru-baru ini ada berita gembira dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, di mana mahasiswanya berhasil membuahkan prestasi dalam kompetisi internasional Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) yang diselenggarakan oleh Institute of Food Technologists Student Association (IFTSA) di McCormick Place and Convention Center, Chicago, Amerika Serikat pada pertengahan Juli lalu.
DSDC merupakan kompetisi untuk mengembangkan desain produk dan teknologi pangan yang melibatkan peserta dari berbagai negara untuk mengembangkan produk dan teknologi pangan dalam menghadapi persoalan pangan di dunia.
Oleh karena prestasi ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Chicago lewat akun Instagram @indonesiainchicago pun mengucapkan selamat, kepada tim dari IPB University yang berhasil meraih juara 2 dan juara 3 pada kompetisi tersebut. Apalagi, tim Indonesia berhasil mengalahkan tiga tim lainnya yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Kosta Rika. Tim juara 2 telah memukau juri dengan inovasi produk mi “Tandum Noodle” tanpa gandum (Tandum) dan gluten-free. Sedangkan Tim juara 3 membawakan ide produk tempe “GemBoost Tempeh” dimana kedelai dari tempe disubstitusi dengan kacang koro, kacang hijau, dan okara (ampas tahu).
Produk yang ditawarkan kedua tim selaras dengan semangat dasar yang ditawarkan oleh pihak penyelenggara, Institute of Food Technologists (IFT), yaitu dalam menghadapi tantangan inflasi dan kenaikan pajak impor, negara-negara berkembang didorong untuk melakukan inovasi produk pangan. Menciptakan produk makanan yang seluruhnya bersumber dari bahan-bahan lokal, dengan kemasan yang mudah diproduksi di negara berkembang terpilih.
Di laman www.IFT.org dijelaskan bahwa GemBoost Tempeh merupakan inovasi pangan berupa tempe berbahan dasar kacang hijau yang ditingkatkan nilai gizinya dengan penambahan hasil sampingan dari pengolahan tahu. Produk pangan bergizi tinggi ini memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan makanan.
Dari berita ini kita patut berbangga, karena tempe berpotensi menjadi makanan yang dapat dikembangkan untuk mengatasi masalah gizi global. Selain itu, mahasiswa Indonesia juga bisa unjuk gigi di kancan internasional dan membuat tempe bisa makin diakui di dunia. [*]