Tempe Bisa Jadi “Wakil” Indonesia dalam Diplomasi Dunia
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Diplomasi pada masa kini tak hanya dilakukan lewat acara formal di meja perundingan, tapi juga lewat kuliner atau tata boga. Diplomasi ini dikenal dengan istilah gastrodiplomasi, yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai diplomasi yang menggunakan makanan sebagai media untuk meningkatkan citra dan membentuk reputasi tertentu bagi sebuah negara dalam kancah internasional.
Gastrodiplomasi juga merupakan bentuk diplomasi lunak yang bisa meningkatkan citra Indonesia di luar negeri.
Salah satu negara yang dianggap berhasil melakukan diplomasi lunak ini adalah Korea Selatan dengan Korean Wave atau hallyu-nya.
Indonesia pun menjalankan gastrodiplomasi, dan masih sangat bisa mengembangkan pendekatan inovatif dalam hubungan internasional ini. Apalagi kuliner di Indonesia sangat kaya, salah satunya tempe yang bisa menjadi duta kuliner Indonesia.
Ada hal yang membuat tempe layak jadi duta kuliner Indonesia. Makanan yang dibuat dari fermentasi kedelai ini tidak hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga membawa nilai sejarah, budaya, dan keberlanjutan (sustainability) yang tengah diupayakan oleh segenap warga dunia.
Hal lain yang jadi keunggulan tempe adalah kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan orang yang mencari pangan nabati sebagai salah satu bentuk upaya menjaga kesehatan. Laman The Conversation mencatat bahwa Tren pangan nabati saat ini sedang berkembang di banyak negara industri , terutama di Eropa. Di benua ini, nilai penjualan makanan nabati meningkat sebesar 49% antara tahun 2018 dan 2020. Hal ini mencakup perluasan pasar pengganti daging dan susu nabati.
Sementara itu, Nurdiana Abhiyoga dan Yang Kharisma Febreani dalam Padjadjaran Journal of International Relations yang diterbitkan pada 2021 menemukan bahwa tempe sudah tersebar di berbagai negara, termasuk di Amerika Serikat.
Nurdiana dan Yang menulis, diperkirakan persebaran diaspora Indonesia terbesar berada di Amerika Serikat di mana jumlah WNI di Amerika pada Juni 2020 mencapai 142.000 orang (Embassy of The Republic of Indonesia in Washington DC, 2020). Hal tersebut menjadikan banyaknya restoran milik WNI yang menjual aneka masakan khas Indonesia termasuk tempe sehingga tempe menjadi ikon gastrodiplomasi yang diminati oleh masyarakat Amerika Serikat karena kekayaan nutrisi yang terkandung di dalamnya.
Dari hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya, maka sepertinya tak ada alasan lagi untuk tidak memasukkan tempe dalam gastrodiplomasi Indonesia. Setuju? [*]