Jangkrik dan Tempe Semangit, Sama-sama Bisa Jadi Altermatif Sumber Protein
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Upaya memenuhi kecukupan gizi di Indonesia menghadapi beberapa tantangan. Bukan cuma soal soal kekurangan gizi, tapi juga fenomena "beban ganda" malnutrisi. Di satu sisi, masih ada daerah-daerah yang menghadapi masalah kurang gizi, sementara di sisi lain, perkotaan mulai dihadapkan pada masalah obesitas yang diperparah oleh perubahan gaya hidup pola konsumsi yang kurang sehat.
Laman Kementerian Kesehatan menyebut, masalah gizi utama di Indonesia terdiri atas masalah gizi pokok yaitu Kekurangan Energi Protein (KEP), Kekurangan Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Anemia Gizi Besi (AGB), selain gizi lebih (obesitas).
Nah, khusus untuk pemenuhan protein, Indonesia punya “harta karun” berupa beragam bahan pangan lokal yang berpotensi menjadi solusi. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan, tempe semangit dan jangkrik dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif bagi masyarakat. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tempe semangit dapat meningkatkan status gizi, terutama bagi ibu hamil.
Diberitakan harian Kompas pada pertengahan Agustus 2024, Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTTP) BRIN, Nila Kusumawaty, menyampaikan, tempe semangit mengandung asam amino atau amino acid yang lebih tinggi dibandingkan dengan tempe kedelai. Tempe semangit dapat diolah menjadi kue kering melalui proses pemanggangan kering (oven drying). Melalui proses itu, selain memudahkan untuk konsumsi, juga dapat mematikan bakteri pada tempe semangit.
Tempe semangit adalah salah satu wujud kekayaan kuliner Tanah Air. Tempe ini dibuat dari tempe biasa yang telah mengalami proses fermentasi lebih lanjut, biasanya selama 3-5 hari. Makanan punya beberapa karakteristik yang khas, antara lain aroma yang lebih tajam dan kuat, tekstur yang cenderung lebih lembek dan basah, serta warna yang lebih gelap. Karakter inilah yang kerap membuat orang mengurungkan niat untuk mengonsumsi.
Di beberapa daerah di Indonesia, tempe semangit - yang juga dikenal sebagai tempe bosok atau tempe kemarin - sering digunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan tradisional. Sebut saja sayut lodeh, oseng pedas, dan sambal tumpang. Penggunaan tempe semangit dalam masakan-masakan ini tidak hanya menambah cita rasa yang khas, tetapi juga meningkatkan nilai gizi hidangan. Aroma tajam yang dihasilkan oleh proses fermentasi lanjutan memberikan rasa unik yang bisa dicoba, khususnya buat yang belum pernah mencicipi. [*]