Tiga Nilai dalam Tempe: Kesehatan, Keberlanjutan, dan Kesetaraan

Sumber Gambar : Tangkapan layar dari https://www.youtube.com/@gwirjawan

Kalau mau mengengok ke belakang, sangat mungkin kita mengenang titik-titik perjalanan kehidupan yang membentuk kita saat ini. Titik tersebut mungkin tak selalu membawa kita maju. Beberapa ada yang membuat kita berhenti sejenak, atau malah harus memutar balik.


Bagi Amadeus Driando Ahnan-Winarno, sosok yang dilabeli predikat sebagai ilmuwan tempe, titik perjalanan hidupnya yang tak selalu mulus membuatnya menjadi pribadi yang begitu mencintai tempe dan bersemangat mempromosikan makanan ini ke seantero dunia.


Dalam obrolan bertema “Protein Masa Depan Penemuan Nenek Moyang - Amadeus Driando | Endgame #98” di kanal Youtube dengan Gita Wirjawan, pengusaha dan mantan menteri perdagangan, Driando membagikan pengalamannya. Salah satunya tentang apa yang ia sebut emotional whys.


“Sepanjang hidup saya, ada beberapa emotional whys—alasan yang membuat saya kayaknya kalau enggak melakukannya selama hidup saya—perasaan saya itu tidak terpenuhi,” kata Driando.


Dalam obrolan itu, Driando menggaris-bawahi tiga hal dalam hidup. Pertama, dari pengalaman keluarganya menghadapi gangguan kesehatan, Diandro menyadari bahwa makanan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kondisi tubuh seseorang. Ada juga pilar penunjang lainnya seperti olahraga rutin, istirahat cukup, serta keseimbangan dalam kehidupan sosial. 


Kedua adalah keprihatinan Driando atas kondisi lingkungan yang ia lihat setiap kali ia latihan marathon. “Kalau saya lari pagi latihan maraton, saya ada rasa gemas gitu, ya. Apa yang bisa dilakukan supaya tidak seperti ini alamnya,” katanya.


Hal yang ketiga adalah pengalamannya saat berkunjung ke sebuah desa. Di desa tersebutlah hati Driando tersentuh ketika melihat teman-temannya di desa tersebut mengalami masalah stunting (tengkes). Ia tergerak dan merasa harus melakukan sesuatu. “Kalau saya tidak melakukan apa-apa, paling tidak mencoba sekuat tenaga saya, hidup saya kurang berarti,” katanya.


Dari pergumulan-pergumulan itulah kemudian Driando menemukan “titik tengah” yaitu health, sustainability, dan equity (kesehatan, keberlanjutan, dan kesetaraan). Dan ketiganya ada di tempe.


Karena tempe adalah makanan yang bergizi, ramah lingkungan, dan terjangkau,” papar Driando.


Dari sisi kesehatan, sudah jadi pengetahuan umum jika tempe punya kandungan Penting bagi tubuh. Selain protein, kandungan tersebut misalnya vitamin B kompleks yang terdiri atas B12 atau methylcobalamin atau hidroksikobalamin, B1 atau thiamin, B2 atau riboflavin, B6 atau piridoksin, serta vitamin A, D, E, dan K.


Dari sisi keberlanjutan alias sustainability, tempe adalah produk yang ramah lingkungan. Ambil contoh limbah cairnya yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Sebagaimana ada dalam artikel "Mewujudkan Kampung Industri Tempe Sanan Ramah Lingkungan Melalui Pemanfaatan Limbah Produksi sebagai Pupuk Organik” di kompasiana.com, penggunaan limbah cair tempe dalam pembuatan pupuk organik cair dapat menghasilkan pupuk yang dapat menghasilkan peningkatan pada penambahan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah batang, serta berat kering batang dan daun.


Terakhir, equity atau kesetaraan menjadi nilai pada tempe karena makanan ini bisa dikonsumsi oleh semua lapisan dengan kekayaan manfaat penting bagi tubuh. [*]


Create By : Admin
Artikel Lainnya