
Selain bergizi, tempe yang biasa kita jumpai dalam menu makanan sehari-hari ternyata juga bisa menginspirasi terobosan teknologi yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah perusahaan rintisan di Bandung, Mycotech Lab, mendapat inspirasi dari proses pembuatan tempe untuk menciptakan kulit alternatif yang ramah lingkungan dan bebas dari unsur hewani.
Gagasan ini bermula dari pengamatan terhadap proses fermentasi kedelai dalam pembuatan tempe. Proses fermentasi yang melibatkan fungi atau jamur ini telah menjadi kearifan lokal masyarakat Indonesia, bahkan jauh sebelum tempe menjadi tren global sebagai sumber protein nabati. Keberhasilan tempe sebagai produk fermentasi memicu pemikiran inovatif untuk mengaplikasikan proses serupa dalam pengembangan material baru.
Sebagaimana disiarkan www.greenqueen.com, setelah melalui proses penelitian yang dimulai sejak 2016, tim Mycotech Lab berhasil mengidentifikasi jenis jamur tertentu yang struktur akarnya (miselium) dapat dimanfaatkan sebagai material pengikat. Terobosan ini menghasilkan mylea, sebuah material yang memiliki karakteristik menyerupai kulit asli, tapi dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah.
Proses produksi mylea dimulai dengan menumbuhkan jamur pada media serbuk gergaji. Miselium yang terbentuk kemudian dipisahkan, dikeringkan, dan dipotong sesuai kebutuhan. Hasilnya adalah material yang tahan air, lentur, dan tahan lama. Yang lebih mengesankan, perusahaan ini juga menggunakan pewarna alami yang diekstrak dari akar, daun, dan limbah makanan lokal, menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya.
Kehadiran mylea menjadi solusi di tengah meningkatnya kesadaran global akan dampak lingkungan dari industri fashion. Inovasi yang berakar pada kearifan lokal ini mendapat sambutan positif dari pasar. Mycotech Lab berhasil membangun basis pelanggan yang besar. Salah satu kolaborasi yang menonjol adalah dengan merek sepatu lokal Bro.do, yang kini berencana memperluas pasarnya hingga ke Jepang. Produk berbahan mylea juga telah merambah ke berbagai aksesori seperti tas dan tali jam tangan.
Kesuksesan Mycotech Lab menunjukkan bagaimana kearifan lokal Indonesia, dalam hal ini teknologi fermentasi dalam pembuatan tempe, dapat menjadi sumber inspirasi untuk inovasi berkelanjutan. Permintaan pasar yang tinggi bahkan telah menjamin keberlangsungan produksi perusahaan hingga tahun 2027, seperti yang diungkapkan oleh CEO perusahaan, Adi Reza Nugroho.
Fenomena ini menegaskan bahwa warisan budaya Indonesia menyimpan potensi besar untuk pengembangan teknologi masa depan yang berkelanjutan. Keberhasilan mengadaptasi proses pembuatan tempe menjadi teknologi material modern membuka peluang bagi lebih banyak inovasi berbasis kearifan lokal di masa mendatang. [*]