Keripik Tempe, Buah dari Benih Harapan Saat Krisis
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Ada benih harapan yang lahir dalam setiap krisis. Di tengah ketidakpastian, manusia sering menemukan kekuatannya yang tersembunyi. Pelajaran ini dibuktikan oleh kelompok perempuan di RT 2/RW 2 Dusun Sumurgung, Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban.
Pandemi Covid-19 yang menghantam banyak lini kehidupan tidak malah membuat sekelompok perempuan di wilayah tersebut berdiam diri. Sebaliknya, pandemi malah mendorong mereka merintis usaha keripik tempe. Diprakarsai oleh Siti Lutfiyah Musa’idah, usaha ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan di lingkungan setempat.
Harapannya tak sia-sia. Dilansir situs web resmi Kabupaten Tuban pada Februari lalu, perempuan yang akrab disapa Bunda Ufie ini berkisah bagaimana pembuatan keripik tempe berawal dari keinginannya supaya para ibu di sekitar rumahnya bisa berdaya. Biasanya, setelah menyiapkan anak sekolah maupun mengurus rumah tangga di pagi hari mereka masih memiliki waktu longgar, sehingga ia berpikir bagaimana supaya waktu tersebut bisa dimanfaatkan secara positif.
Kebetulan, lingkungan tempat tinggal mereka dekat dengan pabrik tempe. Dari sanalah kemudian bahan baku tempe diperoleh—bukan tempe jadi, melainkan campuran kedelai dan ragi yang masih dalam tahap awal. Prosesnya dilanjutkan secara mandiri: tempe difermentasi selama dua hari dengan campuran tepung tapioka.
Setelah berhasil melalui tahap fermentasi, tempe kemudian diiris secara manual. Menurut Bunda Ufie, teknik manual menghasilkan irisan yang lebih tipis dan merata dibandingkan dengan alat pemotong. Irisan tersebut kemudian dibumbui dengan campuran sederhana: bawang putih dan garam, kemudian digoreng hingga kering dan renyah.
Keripik tempe buatan kelompok perempuan ini diberi nama Matoh Poool—sebuah ungkapan khas Jawa Timur yang berarti “enak banget”. Produk ini tersedia dalam empat varian rasa: original, balado, pedas, dan pedas gila. Dikemas dalam ukuran 75 gram, 100 gram, dan 250 gram, harganya berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000.
Meski berbasis di Tuban, pemasaran keripik tempe “Matoh Poool” telah menembus berbagai kota. Selain pembelian langsung, mereka juga melayani pemesanan sistem pre-order (PO). Permintaan biasanya melonjak tajam pada momen-momen spesial seperti Ramadhan dan Idul Fitri.Tak hanya dikenal sebagai produk UMKM, Matoh Poool juga menjadi inspirasi. Tempat produksinya kerap menjadi lokasi edukasi bagi siswa sekolah dan pernah dikunjungi lembaga seperti Kopernik serta Badan Standarisasi Nasional (BSN) Jawa Timur.
Keripik tempe Matoh Poool adalah bukti bahwa pemberdayaan bisa dimulai dari rumah, dari dapur, dari tangan-tangan perempuan yang gigih dan mau bergerak. Di balik kerenyahan tiap potongnya, terselip kisah perjuangan, kolaborasi, dan mimpi besar yang terus digenggam bersama.