2 Hal Keliru tentang Kedelai
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Kedelai dan produk turunannya, termasuk tempe, sering diselimuti bermacam hal keliru yang kemudian membuat orang urung untuk mengonsumsinya.
Informasi yang salah tentang kedelai mungkin berasal dari teman, situs web, atau konten media sosial. Terkait kekeliruan itu, Sharon Palmer, M.S.F.S., RDN, pakar diet spesialis nutrisi nabati menyarankan kita untuk melihat bukti-bukti sainsnya. "Kita sekarang punya banyak penelitian yang membuktikan kedelai aman dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang," katanya dalam kanal Eating Well. Dari kanal itu pula, berikut ini beberapa hal keliru yang seringkali kita dengar terkait kedelai.
Kedelai bisa menyebabkan kanker payudara
Salah satu mitos yang biasa kita dengar tentang kedelai adalah anggapan bahwa kedelai bisa menyebabkan kanker payudara. Alasan di balik anggapan ini biasanya berkaitan dengan fakta bahwa beberapa jenis kanker payudara dipicu oleh reseptor estrogen di jaringan payudara.
Oleh karena kedelai mengandung isoflavon (senyawa tanaman yang menyerupai estrogen), muncul kekhawatiran bahwa zat ini dapat mendorong pertumbuhan kanker payudara. Namun, kenyataannya, meskipun kedelai memang mengandung isoflavon, senyawa ini tidak identik dengan hormon estrogen dalam tubuh manusia. Bahkan, sebagian besar mitos ini berasal dari studi pada hewan, yang memiliki cara berbeda dalam memetabolisme isoflavon.
Palmer menyebut bahwa sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa konsumsi kedelai dalam jumlah wajar tidak hanya aman, tetapi mungkin juga memberikan perlindungan terhadap kanker payudara. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan peneliti dari Pusat Riset Kimia Maju, Anastasia Fitria Devi, sebagaimana dilansir www.brin.go.id pada 21 Oktober 2022, di mana penelitian itu menunjukkan bahwa bioaktivitas ekstrak tempe ternyata bisa menghambat pertumbuhan kanker.
Makanan olahan kedelai berbahaya
Pandangan ini mungkin jarang kita dengar. Namun, di luar neger seperti di AS, pandangan keliru ini nyatanya masih ada. Padahal selama puluhan tahun, produsen makanan telah menambahkan protein kedelai ke berbagai produk seperti pengganti daging, sereal, smoothie, dan energy bar secara aman. Selain menambah kandungan protein dan memperbaiki tekstur makanan, kedelai juga punya manfaat besar untuk kesehatan jantung. Bahkan, hubungan antara protein kedelai dan kesehatan jantung begitu kuat hingga Badan Pengawas obat dan makanan AS (FDA) mengizinkan produsen mencantumkan klaim bahwa konsumsi 25 gram protein kedelai per hari bisa membantu menurunkan risiko penyakit jantung.
Namun, nyatanya makanan olahan dari kedelai masih sering dipandang negatif. “Banyak orang menganggap kedelai sebagai makanan olahan modern, bukan sebagai bahan makanan yang sebenarnya punya sejarah panjang dalam bentuk tradisional seperti tahu, susu kedelai, atau edamame,” jelas Palmer.
Palmer menambahkan bahwa menambahkan bahwa kedelai sangat dihargai di banyak negara karena kaya nutrisi dan memberikan banyak manfaat kesehatan.
Sementara itu, ahli gizi Harbstreet mengatakan, satu-satunya kekhawatiran besar soal makanan olahan kedelai adalah bagi orang yang punya alergi kedelai. Jika Anda termasuk dalam kelompok ini, penting untuk selalu membaca label makanan dengan teliti.
Dengan demikian, kita bisa jadi tambah yakin akan manfaat mengonsumsi makanan jasil olahan kedelai. Lewat ilmu pengetahuan, kita makin yakin kalau makanan kedelai dapat menjadi tambahan yang aman dan sehat untuk hidangan Anda. Bukan cuma lewat tempe, kita juga bisa menikmati manfaat kedelai lewat produk lain seperti susu kedelai dan tahu.
Create By : Admin