Waspada Lemak Trans, Risiko Kesehatan yang Tak Terlihat
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Suka ngemil? Waspada, ada camilan yang mengandung lemak trans yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Sejak dulu, ngemil atau mengudap digemari oleh orang dari beragam usia dan kalangan karena dianggap bisa membawa kesenangan. Pada saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, ketika kita diminta untuk tetap di rumah dan membatasi mobilitas untuk mencegah penyebaran virus, hobi atau kebiasaan ngemil tidak hilang, bahkan bertambah. Tidak percaya? Survei The State of Snacking 2020 yang dilakukan Mondelez International pada 6-20 Oktober 2020, menyebutkan bahwa 60 persen responden dari Indonesia mengonsumsi camilan lebih banyak dibandingkan masa sebelum pandemi.
Selain itu, survei yang dilakukan di 12 negara termasuk Indonesia ini juga mengungkapkan sebanyak 87 persen responden menyatakan mengemil bisa membawa kedamaian dan kesenangan.
Nah, meski bisa memberikan kesenangan, kita perlu lebih cermat saat memilih camilan dan makanan lain. Hasil kajian yang dilakukan WHO dan tim peneliti di South-East Asia Food and Agricultural Science and Technology (Seafast) Center IPB menunjukkan bahwa sebanyak 8,5 persen dari 130 produk yang diteliti mengandung kadar asam lemak trans melebihi ambang batas sebesar 2 persen.
Apa itu lemak trans? Ini adalah jenis lemak yang terbentuk dari proses industri yang disebut hidrogenasi parsial, yaitu penambahan hidrogen pada minyak nabati cair sehingga menjadi lemak padat atau semi-padat. Proses ini membuat produk makanan lebih tahan lama, gurih, dan renyah.
Pada tubuh, lemak trans bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Hal ini dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah yang antara lain meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Lantas, bagaimana kita bisa tetap ngemil, tapi kondisi tubuh bisa tetap terjaga? Salah satu jawabannya, tempe.
Sebagai makanan khas Indonesia, tempe bukan hanya terjangkau dan mudah ditemukan, tapi juga menyimpan banyak manfaat kesehatan. Tempe dibuat melalui proses fermentasi kedelai, yang membuat nutrisinya lebih mudah diserap tubuh. Tempe mengandung protein nabati tinggi, serat, serta berbagai vitamin dan mineral seperti kalsium, zat besi, dan vitamin B. Selain itu, tempe secara alami bebas dari lemak trans dan kolesterol, sehingga menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan camilan ultra-proses.
Namun, penting untuk diingat bahwa cara pengolahan tempe juga menentukan kandungan gizinya. Menggoreng dengan minyak yang telah dipakai berulang atau pada suhu tinggi bisa menurunkan kualitas gizi dan menambah kandungan lemak jahat. Karena itu, agar tetap sehat, tempe sebaiknya diolah dengan cara dipanggang, dikukus, ditumis dengan sedikit minyak, atau menggunakan air fryer.
Dengan pengolahan yang tepat, tempe bisa menjadi camilan yang tidak hanya lezat, tapi juga menyehatkan.