
Tren gaya hidup di media sosial kerap berganti. Beberapa waktu lalu muncul istilah smellmaxxing yang mengacu pada anak-anak muda yang menyemprotkan parfum mahal agar terlihat lebih “wah”. Lalu ada lookmaxxing, tentang usaha memperbaiki penampilan fisik. Kini, linimasa ramai dengan istilah fibremaxxing.
Singkatnya, fibremaxxing adalah gaya hidup yang mengedepankan konsumsi makanan kaya serat. Di TikTok, Instagram, maupun X, bertebaran unggahan foto dan video menu penuh serat: mangkuk berisi oat, chia seed, kacang-kacangan, sayuran hijau, umbi rebus, hingga buah potong warna-warni. Semuanya dibungkus dengan tagar #fibremaxxing sebagai tren hidup sehat.
Kebutuhan serat sebenarnya sudah lama ditegaskan dalam berbagai pedoman gizi. Panduan Pola Makan 2020–2025 yang disusun oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian Amerika Serikat, misalnya, merekomendasikan asupan harian yang berbeda-beda sesuai usia dan jenis kelamin:
· Perempuan 19–30 tahun: 28 gram per hari
· Laki-laki 19–30 tahun: 34 gram per hari
· Perempuan 31–50 tahun: 25 gram per hari
· Laki-laki 31–50 tahun: 31 gram per hari
· Perempuan di atas 50 tahun: 22 gram per hari
· Laki-laki di atas 50 tahun: 28 gram per hari
Angka tersebut menunjukkan bahwa serat bukan sekadar “pelengkap” dalam piring makan, melainkan kebutuhan penting untuk kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh.
Nah, berbicara soal serat, ada satu bahan makanan tradisional yang dekat sekali dengan keseharian orang Indonesia: tempe.
Selama ini tempe lebih sering dipromosikan sebagai sumber protein nabati murah meriah. Namun, faktanya, makanan juga bisa menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan serat harian.
Sebagai gambaran, mengutip alodokter, dalam 100 gram tempe terkandung 21 gram protein dan 1,4 gram serat. Ditambah lagi, serat dalam tempe juga dapat berperan sebagai prebiotik yang baik untuk kesehatan sistem pencernaan anak.
Selain itu, proses fermentasi oleh kapang Rhizopus oligosporus bahkan membuat kandungan serat dalam tempe bersifat prebiotik, yang membantu pertumbuhan bakteri baik di usus.
Jika tren fibremaxxing di media sosial sering menampilkan makanan ala Barat, dari oat sampai salad segar, sebenarnya Indonesia punya “bintang lokal” yang tak kalah hebat: tempe. Dengan harga terjangkau, mudah diperoleh, sekaligus kaya manfaat, tempe bisa menjadi ikon fibremaxxing versi Nusantara.
Bayangkan, generasi muda bisa menunjukkan sepiring nasi merah, tempe bacem, sayur asem, dan lalapan segar. Nilai seratnya tetap tinggi, plus ada identitas budaya yang melekat.
Tren ini pada akhirnya bisa menjadi peluang untuk membingkai ulang tempe di panggung global. Bukan hanya sebagai superfood berprotein yang sudah banyak diteliti, tetapi juga sebagai sumber serat berkualitas yang mendukung gaya hidup sehat masa kini. Dengan begitu, #fibremaxxing bisa terasa lebih membumi, tidak sekadar ikut-ikutan tren, melainkan juga mengangkat kembali kearifan pangan lokal.