Tempe “Naik Kelas”: Terobosan BRIN yang Bisa Mengubah Masa Depan “Superfood” Indonesia
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Selama ini tempe dikenal sebagai lauk sederhana yang mudah ditemui di meja makan masyarakat Indonesia. Namun, laporan dari BRIN baru-baru ini menunjukkan bahwa tempe sedang berada di fase penting dalam perkembangannya. Tempe tak lagi hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi sebagai pangan fungsional yang berpotensi menjadi superfood Indonesia di masa depan.
Menurut penjelasan BRIN, proses fermentasi tidak sekadar mengubah kedelai menjadi tempe, tetapi berpeluang meningkatkan kandungan senyawa bioaktif di dalamnya. Salah satu fokus utama riset adalah konversi isoflavon ke dalam bentuk lebih mudah diserap tubuh, yaitu isoflavon aglikon. Hasil awal menunjukkan bahwa dengan metode fermentasi dan bioproses, isoflavon aglycone ini dapat meningkat.
“Isoflavon kedelai pada awalnya berada dalam bentuk glikosida dan melalui fermentasi baik oleh kapang Rhizopus maupun bakteri, senyawa tersebut dapat dikonversi menjadi bentuk aglikon seperti daidzein dan genistein,” kata Periset PRTPP BRIN, Andri Frediansyah, sebagaimana disiarkan www.brin.go.id. Ia menambahkan isoflavone aglycone itu lebih bioaktif dan lebih cepat diserap tubuh, hanya sekitar dua jam dibandingkan glikosida yang butuh empat jam.
Kemudahan penyerapan ini dipandang penting karena isoflavon aglikon, menurut tim riset di BRIN, memiliki potensi manfaat kesehatan, antara lain sebagai antioksidan, yang lebih efektif.
Sementara itu, dalam liputan RRI, disebutkan bahwa riset ini bagian dari upaya BRIN mengembangkan tempe sebagai “pangan fungsional” yang relevan untuk masa depan. Tempe dianggap layak dieksplorasi lebih jauh sebagai produk dengan nilai gizi dan bioaktif tinggi. Dengan demikian, tempe yang selama ini kita anggap makanan tradisional dan sederhanasedang berada di jalur transformasi: dari makanan harian menuju produk pangan fungsional modern, yang menawarkan lebih dari sekadar kalori atau protein.
Kombinasi antara fermentasi tradisional, riset ilmiah, dan teknologi bioproses membuka peluang bahwa tempe bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, sekaligus representasi inovasi pangan Indonesia.