
Banyak hal di sekitar yang kita anggap biasa, ternyata bernilai lebih atau istimewa bagi orang lain.
Hal yang paling mudah dijumpai adalah iklim tropis, dengan suhu hangat dan matahari melimpah hampir sepanjang tahun. Kondisi ini membuat banyak orang dari negara lain yang beriklim subtropis mau datang ke Indonesia dan menikmati hangat mentari sepanjang hari.
Bukan cuma soal iklim, makanan Indonesia pun digemari oleh banyak orang dari segala penjuru dunia. Misalnya tempe.
Tidak percaya? Coba simak cerita Cynthia Andriani, Ellen Putri Edita, Izzan Fathurrahman, dan Giovania Kartika yang berkuliah di Universitas Lund, Swedia menggagas bisnis berjuluk ‘Super Tempe’.
Mengutip artikel www.kompas.com pada 2019, di kawasan Eropa Utara, tempe masih merupakan hal yang asing. Kalau pun ada, harganya cukup menguras kantong. Berangkat dari tantangan harga dan pasokan itulah, keempat mahasiswa Indonesia menawarkan ide bisnis tersebut.
Tujuan ‘Super Tempe’ adalah memperkenalkan tempe khas Indonesia, sebab sebagian besar masyarakat di Swedia belum familiar. Padahal, tempe berpotensi menjadi kudapan alternatif yang sehat.
“Apalagi tempe ini sangat sesuai dengan tren sustainability, climate change, dan vegan lifestyle orang Swedia,” ujar Cynthia yang menempuh studi master di bidang Food Technology and Nutrition.
Tak hanya berbekal ide, mereka menjajal sendiri bagaimana membikin tempe yang pas dengan selera orang Swedia. Pasalnya, Swedia adalah negara dengan empat musim yang suhunya bisa berada di bawah nol derajat saat musim dingin.
“Sebelum ikut kompetisi ide bisnis, saya sering membuat tempe sendiri di housing,” imbuh Ellen yang menekuni Environmental Studies and Sustainability Science. Berkali-kali pula, kata Ellen, dia menemui kegagalan saat pembuatan tempe.
Masih dari www.kompas.com, perjuangan keempat mahasiswa tersebut mulai menemui titik terang saat menjadi pemenang dalam Lund Innovation Boot Camp pada September 2018.
Sebagai juara ketiga, mereka berhak mendapat kesempatan bertemu dengan ratusan investor dan pemangku kepentingan Swedia di ajang Sweden Demo Day di kota Stockholm pada 2019. Sweden Demo Day adalah ajang temu para startup, investor, dan korporasi di bidang digital. Lebih dari 3.000 pengusaha, investor, media, dan pemangku kepentingan lainnya berkumpul selama satu hari penuh.
Di ajang tersebut, Super Tempe mencuri perhatian investor. Rata-rata pengunjung menyukai rasa dan tekstur unik tempe.
“Kami bawa contoh produk olahan tempe yang digoreng dengan tepung. Apalagi masyarakat Swedia banyak yang vegan dan vegetarian tempe, jadi cocok banget jadi varian makanan mereka,” tutur Izzan Fathurrahman, mahasiswa pascasarjana bidang Development Studies.