
Salah satu faktor yang memegang kunci penting dalam poembuatan tempe adalah fermentasi.
Proses fermentasi atau pemeraman adalah saat di mana kapang tumbuh dan mengubah kedelai menjadi tempe. Proses ini biasanya dilakukan di rak bertingkat. Dalam proses ini pula kedelai yang sudah masuk dalam kemasan tidak boleh langsung diletakkan di permukaan yang padat, karena sisi tempe yang bersentuhan langsung dengan permukaan tidak akan mendapat sirkulasi udata yang baik sehingga hal ini membuat proses pembuatan tempe gagal.
Selain memunculkan kapang, fermentasi juga memicu datangnya beberapa senyawa aktif bagi tubuh, seperti asam lemak tidak jenuh (asam oleat, asam linoleat, asam linolenat)
yang berfungsi sebagai antioksidan dan penurun kolesterol.
Jadi, sudah terbayang betapa penting tahapan fermentasi, bukan? Nah, pada awal 2023 tersiar kabar gembira bahwa dosen dan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) berinovasi mengembangkan alat yang mampu mempercepat fermentasi tempe.
Inovasi yang melibatkan seorang mahasiswa, Zainal Arifin dan dua orang dosen, Jaka Persada Sembiring, S.Kom., M.Cs dan Elka Pranita, S.Pd., M.T ini kabarnya bisa mempercepat proses fermentasi tempe dibanding proses fermentasi secara konvensional yang biasanya memakan waktu 2-3 hari.
Salah satu kanal yang menyiarkan kabar ini adalah lampungpro.co, yang pada Maret 2023 melansir, “Hasil penelitian yang dilakukan pengujian selama tujuh kali, didapati waktu tercepat fermentasi yaitu 17 jam dan terlama 26 jam. Ini dengan penurunan berat tempe sebesar 5 gram ketika tempe sudah jadi dengan kriteria tempe sudah tumbuh jamur secara merata, tidak berbau, dan tidak busuk.”
Wah, inovasi-inovasi semacam ini pastinya perlu didukung supaya industri tempe bisa lebih maju, ya. [*]