Keberagaman di Indonesia membuat banyak orang dari seantero dunia jadi jatuh cinta. Keberagaman itu bukan cuma soal budaya, tapi juga makanannya. Hal ini yang menarik minat seorang profesor asal Korea dan menuliskannya dalam sebuah buku.
Dalam buku berjudul Kebudayaan Indonesia di Mata Orang Korea yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Prof. Yang Seung Yoon menulis tentang banyak hal tentang Indonesia, yang oleh sebagian kita mungkin dianggap hal yang biasa.
Ramadhan di Indonesia, pernikahan beda agama, buah pepaya, singkong, tukang becak, dan batik hanyalah beberapa hal yang jadi topik tulisan Prof. Yang dalam buku tersebut. Tak luput tentang tempe, yang oleh Prof. Yang bisa disebut sebagai cheonggukjang versi Indonesia.
Cheonggukjang adalah salah satu makanan hasil fermentasi kacang. Masa fermentasinya sendiri sekitar seminggu.
Dalam buku itu Prof. Yang juga menulis, fermentasi tempe tidak selama cheonggukjang dan natto (fermentasi kacang kedelai khas Jepang); tidak berbau menyengat; dan saat fermentasi, aktivitas bakteri membuat kacang kedelai saling merekat dan menjadi padat dengan tingkat kepadatan yang pas.
Tak lupa, Prof. yang juga menulis bagaimana tempe di Indonesia biasa dimasak, yaitu diiris lalu digoreng. Bisa juga dipotong dadu kemudian ditumis bersama dengan cabai dan kacang panjang.
Tulisan yang dibuat Prof. Yang ini sudah barang tentu bisa jadi bukti kalau tempe bisa menarik minat banyak orang, termasuk dari mancanegara. Bukan semata karena manfaat yang dikandung oleh tempe, tapi juga keragaman kreasi masakan yang bisa dihasilkan. Oh ya, pastinya juga tempe bisa jadi jembatan yang membuka diplomasi budaya Indonesia dengan negara lain. [*]