
Keterbatasan informasi bisa memicu anggapan yang keliru alias mispersepsi. Termasuk anggapan seputar tempe.
Dalam buku Tempe Sumber Zat Gizi dan Komponen Bioaktif untuk Kesehatan karya Made Astawan, Tutik Wresdiyati, dan Lulu Maknun disebutkan bahwa meskipun berbagai kajian ilmiah tentang khasiat kedelai bagi kesehatan telah tersedia, tapi beberapa anggapan keliru masih berkembang di kalangan masyarakat.
Dua anggapan keliru yang banyak beredar di masyarakat adalah menyangkut isoflavon sebagai penyebab ketidaksuburan dan feminisme pada pria, serta produk olahan kedelai sebagai penyebab tingginya asam urat yang menjurus kepada munculnya penyakit gout.
Sekadar menyegarkan ingatan soal, dalam PAN-Asia Soyfood Summit 2020 diungkap beberapa manfaat insoflavon. Salah satunya menurunkan risiko gangguan kognitif; terutama pada perempuan setelah masa menopause.
Isoflavon juga dapat meningkatkan kesehatan kulit (mengurangi keriput), karena senyawa ini terlibat dalam pembentukan kolagen yang penting untuk kekuatan dan struktur kulit.
Dalam buku terbitan PT Penerbit IPB Press tersebut dijelaskan ada pemahaman yang salah mengenai konsumsi isoflavon kedelai oleh pria. Beberapa hasil studi dengan tikus percobaan menyebutkan konsumsi isoflavon kedelai dapat menurunkan kesuburan pria (Chavvaro et al. 2008) dan menimbulkan efek feminin pada pria (Martinez dan Lewi 2008).
Hal tersebut tidak benar karena berbagai uji klinis yang ditinjau oleh Messina (2010) memberikan kesimpulan bahwa manusia dan hewan pengerat seperti tikus, memiliki perbedaan metabolisme isoflavon.
Konsumsi isoflavon tidak memengaruhi kadar estrogen dan sperma pria, bahkan dikonsumsi melebihi kadar isoflavon yang umum. Konsumsi tempe bagi pria maupun wanita sama-sama aman. Pada pria, konsumsi tempe maupun produk kedelai lain yang kaya isoflavon, sangat bermanfaat dalam mencegah kanker prostat.
Lantas bagaimana dengan asam urat?
Masih dari sumber yang sama, disebutkan bahwa pangan berbahan kedelai (soyfoods) telah sejak lama menjadi bagian dari menu makanan tradisional di Asia.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari pangan berbahan kedelai sangat terkait erat dengan kandungan gizinya. Sayangnya, banyak tenaga kesehatan profesional dan masyarakat luas di Asia yang berkeyaninan bahwa pangan dari kedelai dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam tubuh yang berisiko pada timbulnya penyakit gout (Messina et al. 2011).
Namun, tidak satu pun dari enam studi epidemiologi yang diidentifikasi oleh Messin et al. (2011) yang memberikan bukti bahwa konsumsi kedelai menyebabkan peningkatan sirkuasi asam urat, hiperurisemia, atau gout.
Selanjutnya, evaluasi terhadap data dari lima studi intervensi pada manusia juga menunjukkan bahwa protein kedelai tidak meningkatkan kadar asam urat di dalam serum sehingga konsumsi pangan berbahan kedelai seperti yang biasa dilakukan di Asia tidak relevan secara klinis dianggap sebagai penyebab kenaikan asam urat.
Berdasarkan data yang ada saat ini tidak ada alasan bagi seseorang yang menderita gout atau berisiko terkena gout untuk menghindari konsumsi pangan berbahan kedelai. [*]