
Dari warung sederhana hingga ke restoran berpenyejuk udara, dari meja makan di rumah atau di kotak bekal ke kantor dan ke sekolah, tempe dengan mudah bisa dijumpai.
Bentuk nama olahannya pun beragam. Bisa menjadi tempe goreng, kering tempe, tempe mendoan, tempe kemul/tempe goreng tepung, atau dijadikan menu pelengkap seperti dalam sayur lodeh.
Tempe memang bukan makanan kemarin sore. Jika dirunut ke belakang, tempe sudah ada di Nusantara sejak ratusan tahun silam. Buktinya, tempe pernah tercatat dalam Serat Centhini (1814), ini adalah kumpulan tulisan Raja Pakubuwono V abad XVI.
Di dalam Serat Centhini dideskripsikan bagaimana kehidupan masyarakat Jawa di sekitar Surakarta dan Yogyakarta yang telah mengenal tempe dan lethokan, sajian yang terbuat dari tempe semangit atau tempe bosok, sudah hadir dalam kehidupan masyarkat Jawa lebih dari 400 tahun silam.
Di dalam Serat Centhini ada pula kata-kata “brambang jahe santen tempe” pada jilid III, kemudian “kadhele tempe srundengan” pada jilid XII.
Mengutip artikel di harian Kompas, Guru Besar Bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan Institut Pertanian Bogor (IPB) Made Astawan mengatakan, 'Dhele” dalam bahasa Jawa Kawi artinya hitam. Ini merujuk pada kacang kedelai hitam yang banyak ditanam di wilayah Kerajaan Mataram Jawa Tengah. Hal ini, kata Made, menunjukkan bahwa tempe sudah hadir sebelum kedelai kuning dari Manchukuo, China utara, banyak ditanam.
Ia juga menuturkan bahwa tempe juga menjadi komponen penting dalam proses ritual dan sosial masyarakat Indonesia. Tradisi tumpeng mensyaratkan tujuh lauk, yang termasuk tempe.
Dari Serat Centhini, lembar sejarah tempe terus berlanjut. Salah satunya pada tahun 1895, ketika seorang sarjana Belanda, HC Princen Geerligs, menulis tentang nilai gizi dan cara pembuatan tempe dalam tulisannya, ”Einige Chinese Voedingsmiddelen Uit Soyabonen Bereid” (Suatu makanan China terbuat dari kedelai).
Patut dicatat bahwa meski tertulis sebagai makanan China, pada saat itu, baik di China maupun Taiwan, belum pernah dilaporkan keberadaan makanan sejenis tempe. Geerligs bersama rekannya, FA Want, adalah ilmuwan yang pertama kali menemukan jenis jamur atau kapang yang sangat berperan dalam pembuatan tempe, yaitu Rhizopus oligosporus (Kompas, 8 Februari 1981).
Hingga kini, tempe seolah jadi makanan yang tak pernah absen dari meja makan atau etalase-etalase warung makan. Oleh karena sejarah panjang, dan mamnfaatnya bagi tubuh itulah maka sudah sepatutnya tempe bisa naik ke panggung dunia. Mari kita dukung terus! [*]