
Bagaimana cara memecah kebuntuan dan membangun kepercayaan? Dengan otot dan beradu urat syaraf tentu bukan pilihan. Namun, dengan saling mengenal dan membuka diri, niscaya ini menjadi kunci untuk bermacam persoalan.
Dalam hal hubungan antar-negara, upaya untuk saling mengenal itu antara lain bisa dilakukan lewat diplomasi budaya (cultural diplomacy) dengan cara memperkenalkan budaya atau ciri khas kebudayaan kepada negara lain.
Salah satu bentuk budaya yang jadi ciri atau identitas sebuah negara adalah makanan. Indonesia, yang punya keragaman hayati dan sejarah yang panjang, punya banyak sekali makanan yang bisa menjadi “duta diplomasi” di negara lain, misalnya tempe yang punya sejarah panjang.
Merunut sejarah, tempe sudah ada di Nusantara sejak ratusan tahun silam. Buktinya, tempe pernah tercatat dalam Serat Centhini (1814), ini adalah kumpulan tulisan Raja Pakubuwono V abad XVI.
Di dalam Serat Centhini dideskripsikan bagaimana kehidupan masyarakat Jawa di sekitar Surakarta dan Yogyakarta yang telah mengenal tempe dan lethokan, sajian yang terbuat dari tempe semangit atau tempe bosok, sudah hadir dalam kehidupan masyarkat Jawa lebih dari 400 tahun silam.
Menembus dunia
Kini tempe tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga di negara lain. Di Jepang, sosok yang mempopulerkan tempe adalah Rustono, yang populer disebut ”Rustono Tempeh”.
Di banyak portal berita kita bisa membaca kisah Rustono hingga sukses dengan usaha tempenya. Lahir di Grobogan, Jawa Tengah pada 1968, Rustono memulai usahanya saat ia pindah ke Jepang.
Awal perjalanannya tak mudah, karena di Jepang banyak yang tidak tahu soal tempe. Maka ia bersama pasangannya, Tsruko Kuzumoto, berupaya sendiri door to door mengenalkan tempe ke restoran dan toko.
Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Tempe buatan Rustono bisa diterima masyarakat Jepang, terpampang di supermarket, dan memasok ke beberapa tempat.
Dalam artikel opininya yang berjudul Diplomasi Tempe di Kompas.id pada 23 April 2023, Butet Kartaredjasa menulis bahwa dengan tagline yang jika diindonesiakan artinya ”Hadiah Indonesia untuk Dunia”, tempe Rustono mempunyai posisi setara dengan menu-menu khas Jepang lainnya, bahkan ada sejumlah resto yang jualannya menu-menu berbasis tempe.
Lebih lanjut dalam artikel yang sama, Butet menulis, kepada jejaring bisnisnya, Rustono mewajibkan kemasan tempenya harus mencantumkan semboyan berbahasa negara masing-masing yang bunyinya: ”Hadiah Indonesia bagi Dunia”. [*]