Sebuah Aksi untuk Bumi yang Lebih Layak Huni

Sumber Gambar : Ilustrasi: www.canva.com

Beberapa waktu lalu ramai diberitakan kalau Juli tahun ini menjadi bulan terpanas. 


Merujuk analisis Universitas Leipzig, Jerman, yang dirilis pada akhir Juli 2023, rata-rata suhu global sekitar 1,5 derajat celsius di atas rata-rata suhu global era pra-industri. Asal tahu saja, suhu pra-industri merupakan batas kritis untuk pemanasan global sesuai Perjanjian Paris 2015.


Mengutip artikel “Suhu Global Awal Juni 2023 Lewati Ambang Batas 1,5 Derajat Celsius” di Kompas.id, ambang batas suhu 1,5 derajat celsius merupakan indikator utama yang digunakan untuk melacak pemanasan global. Para ilmuwan dan semua pemerintah telah sepakat dalam Perjanjian Paris untuk mencoba membatasi pemanasan permanen hingga tidak lebih dari 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri untuk mencegah gangguan iklim yang lebih buruk seperti kekeringan, banjir, dan kenaikan permukaan laut.


Aksi untuk Bumi

Bumi, yang disebut-sebut terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, sedang menghadapi bermacam tantangan. Gangguan iklim yang memicu bencana seperti kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem; populasi yang meningkat (diperkirakan sekitar 8 miliar jiwa pada 2022) adalah bukti nyata yang membuat kita perlu segera beraksi.


Aksi tersebut bisa kita mulai dari hal kecil. Misalnya menghemat air; menghemat listrik; mengurangi sampah, termasuk sampah makanan; serta melakukan penghijauan di lingkungan sekitar.


Kita juga bisa berkontribusi terhadap kelangsungan bumi dengan mengurangi jejak karbon. Jejak karbon adalah jumlah karbon atau gas emisi yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia pada kurun waktu tertentu. Jejak karbon yang tidak terkontrol bisa memicu banyak hal negatif terhadap bumi.


Upaya untuk menekan jumlah jejak karbon antara kain dilakukan oleh petani kedelai di Amerika Serikat (AS), dengan mengembangkan solusi berkelanjutan. Caranya, memproduksi lebih banyak sambil menggunakan lebih sedikit sumber daya, menerapkan praktik pertanian yang mengurangi jejak karbon, dan membantu melestarikan lahan hutan.


Hasilnya, seperti diungkap dalam www.ussoy.org, kedelai AS jadi salah satu yang memiliki jejak karbon terendah.


Sekadar mengingatkan, pertanian memainkan peran penting dalam beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terutama: Zero Hunger (tujuan kedua), dan juga dimungkinkan oleh Air Bersih dan Sanitasi (tujuan keenam), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (tujuan keduabelas),Aksi Iklim (tujuan ketigabelas), Kehidupan di Tanah (tujuan kelimabelas), dan Kemitraan (tujuan ketujuhbelas). [*]


Create By : Admin
Artikel Lainnya