
Indonesia mengajukan tempe sebagai Warisan Budaya tak Benda Dunia ke UNESCO pada 2025. Dari langkah ini kita diajak juga untuk melihat bahwa tempe bukan semata soal pangan, tapi juga soal sejarah dan identitas Indonesia.
Mengutip www.sindonews.com, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan, pengajuan tempe agar dicatatkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia itu dilakukan secara sendiri alias single nomination. "UNESCO membatasi kita hanya boleh satu negara (ajukan) satu dalam dua tahun untuk single nomination," kata Fadli dalam Bincang Media Satu Tahun Kementerian Kebudayaan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kita tentu patut mendukung rencana ini, karena tempe bukan sekadar hasil fermentasi kedelai, melainkan kisah panjang tentang kearifan lokal, kebersamaan, dan inovasi yang bertahan ratusan abad lamanya. Dari dapur-dapur sederhana di kampung Jawa hingga rak-rak toko bahan makanan di banyak negara dunia, tempe telah menempuh perjalanan luar biasa dari makanan rakyat menjadi simbol keberlanjutan (sustainability).
Lebih dari sekadar makanan
Bagi banyak orang Indonesia, tempe hadir setiap hari tanpa disadari keistimewaannya. Namun, di balik teksturnya yang sederhana, tempe menyimpan nilai budaya yang mendalam. Ia lahir dari pemanfaatan kedelai melalui proses fermentasi dengan jamur Rhizopus oligosporus. Proses ini tidak hanya menghasilkan sumber protein murah dan bergizi, tetapi juga mencerminkan pengetahuan tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Di banyak daerah, pembuatan tempe masih dilakukan secara tradisional oleh perajin. Aktivitas ini menjadi bagian dari ekonomi lokal sekaligus ruang sosial, di mana keahlian, kebersihan, dan kesabaran menjadi bagian dari etos kerja. Tempe, dengan demikian, bukan sekadar produk pangan, melainkan juga kekayaan budaya yang menandai relasi manusia, alam, dan tradisi.
Sementara itu, di tingkat dunia, tempe telah lama mencuri perhatian. Tren gaya hidup plant-based membuat tempe populer sebagai sumber protein nabati yang ramah lingkungan. Di banyak negara Barat, tempe kini masuk menu restoran vegan, menjadi bahan riset nutrisi, bahkan dikembangkan secara industri dengan berbagai inovasi rasa dan bentuk. Namun, bagi Indonesia, pengakuan UNESCO akan menegaskan bahwa akar budaya tempe tetap tumbuh dari tanah Nusantara.