Satu Food Truck, Banyak Cerita: Tempe Frieda yang Mencuri Perhatian Cape Town
Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Di Cape Town, Afrika Selatan, tempe menemukan tempat baru di hati masyarakat di sana berkat seorang wirausahawati kelahiran Surabaya, Frieda Olivia Adriaensen.
Tempe, makanan asli Indonesia yang sudah ada sejak ratusan tahun silam, kini sudah “berkelana” ke negeri-negeri jauh, yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal ini antara lain berkat duta-duta kuliner Tanmah Air yang memperkenalkan kebaikan tempe di balik kelezatannya.
Salah seorang duta kuliner itu adalah Frieda. Mengutip dari www.hariansuara.com, ia memperkenalkan tempe lewat inisiatifnya dengan Bali Food Truck dan brand Boemboe Tempeh. Ia awalnya bekerja sebagai staf di Konsulat Jenderal RI di Cape Town, tapi passion-nya terhadap masakan Indonesia mendorongnya merintis usaha kuliner yang kini menjadi jembatan rasa antara Nusantara dan Afrika Selatan.
Frieda memulai usahanya dengan berjualan di pasar mingguan Food & Craft Market menggunakan nama Waroeng Batavia, Indonesian Cuisines. Frieda menyadari bahwa belum ada rumah makan Indonesia di Cape Town dan melihat peluang besar untuk mengenalkan ragam hidangan Nusantara kepada komunitas lokal, termasuk komunitas Cape Malay yang memiliki akar budaya Indonesia.
Pada Oktober 2022, Frieda mengambil keputusan besar untuk mundur dari posisinya di KJRI dan menaruh seluruh fokus pada usahanya. Ia membeli sebuah food truck dan menciptakan brand Bali Food Truck sebagai kendaraan utama untuk menyajikan masakan Indonesia keliling kota.
Bak gayung bersambut, keputusannya mendapat respons positif. Food truck-nya laris di berbagai event karena menu otentik dan pelayanan ramah ala Indonesia.
Salah satu inovasi kulinernya adalah Boemboe Tempeh, produk tempe yang diproduksi sendiri setelah berulangkali gagal menyempurnakan proses fermentasi. Di Cape Town sudah ada tahu dan tempe, tetapi rasanya berbeda dari tempe asal Indonesia, sehingga Frieda merasa perlu menciptakan versi yang lebih otentik. Dengan dedikasi tinggi, ia berhasil menjual tempe produksinya ke restoran dan gerai kesehatan (health shops), sambil memperkenalkan tempe di food truck-nya.
Langkah Frieda bukan sekadar bisnis kuliner, tetapi juga bagian dari “diplomasi” budaya. Tempe dipandang sebagai superfood karena kandungan protein nabatinya, tetapi mengenalkannya di Afrika Selatan tidak mudah karena konsumsi daging yang dominan di masyarakat di sana. Meski demikian, Frieda optimistis. Ia percaya bahwa dengan mengenalkan olahan tempe secara kreatif dan konsisten, kebiasaan baru bisa tercipta.
Kisah Frieda juga menjadi inspirasi bagi banyak perempuan untuk berani berwirausaha. Setelah 18 tahun tinggal di Cape Town, ia tetap memegang kewarganegaraan Indonesia dan menyatakan kecintaannya pada Tanah Air. Dalam pesannya kepada para perempuan Indonesia, Frieda menekankan pentingnya memilih bidang usaha yang sesuai passion, menguasai teknologi, fokus, dan terus belajar. Menurutnya, kegagalan boleh saja datang, tapi yang terpenting adalah bangkit kembali.