
“Esuk dhele, sore tempe.”
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sepotong peribahasa dalam Bahasa Jawa itu artinya ‘pagi kedelai, sore tempe’. Makna di baliknya mengacu pada pendirian yang tidak teguh, tidak konsisten, atau omongan dan perilakunya tidak konsisten.
Namun, berbeda dengan makna peribahasa tersebut, tempe dan kedelai konsisten memberikan manfaat bagi banyak orang karena kandungan di dalamnya. Kandungan tersebut misalnya antioksidan, yang bermanfaat untuk menangkal radikal bebas, yaitu molekul, atom, atau sel-sel yang bisa memicu bermacam hal negatif terhadap tubuh.
Kandungan lainnya adalah protein dalam tempe, yang bisa memenuhi kebutuhan protein harian mencapai 34 persen bagi orang dewasa. Dalam tubuh, protein bermanfaat untuk menjaga kekuatan tulang serta meningkatkan massa dan kekuatan otot.
Membantu mencegah demensia
Selain kandungan-kandungan tersebut, kedelai sebagai bahan dasar tempe juga mengandung fitoestrogen, yang diperkirakan dapat meningkatkan estrogen pada perempuan yang akan dan sudah menopause sehingga memperlambat datangnya demensia.
Sekadar menyegarkan ingatan, demensia adalah penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Gejala awal demensia antara lain mudah lupa, sulit mengambil keputusan serta mengalami gangguan berbahasa dan kemunduran baik motivasi, inisiatif, maupun minat.
Kembali ke manfaat tempe dan demensia, mengutip harian Kompas, Januari 2020, penelitian akan manfaat tempe untuk mencegah demensia tersebut dilakukan oleh tim Universitas Respati Indonesia (Urindo) di bawah kepemimpinan rektor sekaligus Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Tri Budi Rahardjo. Mereka bermitra dengan Universitas Loughborough, Inggris, di bawah kepemimpinan Profesor Eef Hogervorst.
”Penelitian masih dilakukan pada tikus. Tikus-tikus itu diberi makan tepung tempe sebanyak 150 gram setiap hari. Hasilnya, kandungan estrogen di tubuh mereka bertambah,” kata Kepala Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Urindo Atik Kridawati Irsan.