Kedelai, dari Pangan Tradisional hingga Menjadi Perhatian Dunia Medis

Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Kedelai merupakan salah satu tanaman pangan yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, konsumsi kedelai dan berbagai produk turunannya seperti tahu, tempe, dan susu kedelai terus meningkat. Tren ini kerap dikaitkan dengan meningkatnya perhatian terhadap pola makan dan kesehatan.
 
Di balik popularitas tersebut, kedelai juga menarik perhatian kalangan peneliti. Hubungan antara konsumsi kedelai dan kesehatan, khususnya kaitannya dengan kanker, menjadi bahan kajian ilmiah yang terus berkembang.
 
Salah satu tinjauan ilmiah mengenai topik ini dimuat dalam International Journal of Innovative Technologies in Social Science pada 2025. Artikel berjudul The Impact of Soy on Cancer Risk and Outcomes merangkum berbagai meta-analisis, uji klinis terkontrol, serta telaah sistematis dari penelitian yang dipublikasikan dalam beberapa tahun terakhir. Kajian ini menjadi rujukan penting untuk memahami posisi kedelai, termasuk produk fermentasinya, dalam konteks kesehatan modern.
 
Senyawa bioaktif
Kedelai mengandung berbagai zat aktif yang menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan. Salah satu kelompok senyawa yang paling banyak dibahas adalah isoflavon, senyawa alami yang terdapat dalam kedelai. Isoflavon, seperti genistein dan daidzein, memiliki struktur yang mirip dengan hormon estrogen di dalam tubuh manusia. Karena kemiripan ini, isoflavon dapat berinteraksi dengan reseptor hormon dan memengaruhi sejumlah proses biologis.
 
Selain isoflavon, kedelai juga mengandung serat pangan, saponin, lignan, serta senyawa lain yang turut dikaji karena potensi perannya dalam menjaga kesehatan. Produk berbasis kedelai menyajikan kombinasi senyawa-senyawa tersebut dalam bentuk yang berbeda, tergantung pada jenis produk dan proses pengolahannya. Oleh karena itu, efek kesehatan dari tahu, tempe, atau produk kedelai lainnya tidak selalu identik.
 
Berdasarkan sejumlah meta-analisis yang dirangkum dalam kajian tersebut, konsumsi kedelai secara umum dikaitkan dengan penurunan risiko kanker secara keseluruhan. Namun, kekuatan bukti ini tidak merata pada semua jenis kanker.
 
Sejumlah kajian ilmiah berskala besar menunjukkan bahwa perempuan yang mengonsumsi kedelai cenderung memiliki risiko kanker payudara yang lebih rendah, baik sebelum maupun setelah menopause. Pada pasien kanker payudara, konsumsi kedelai juga dikaitkan dengan prognosis yang cenderung lebih baik, meski penulis jurnal menekankan bahwa kualitas bukti pada aspek ini masih terbatas.
 
Bukti yang beragam
Meski berbagai penelitian menunjukkan potensi manfaat, para peneliti menegaskan bahwa temuan ilmiah yang ada masih menunjukkan tingkat keragaman yang tinggi. Literatur yang tersedia dicirikan oleh perbedaan hasil antarstudi, baik dari sisi jenis kanker, bentuk produk kedelai, maupun karakteristik populasi yang diteliti.
 
Penulis jurnal menyebutkan bahwa keragaman tersebut dipengaruhi oleh faktor geografis, pola makan, gaya hidup, serta faktor lain seperti jenis kelamin. Karena itu, kedelai dan produk turunannya tidak dapat dipandang sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan.
 
Kedelai, dengan demikian, bukan sekadar pangan tradisional atau tren gaya hidup. Ia telah menjadi objek kajian serius dalam ilmu kesehatan modern. Di tengah meningkatnya konsumsi protein nabati di berbagai belahan dunia, pemahaman berbasis sains mengenai kedelai menjadi semakin relevan—sekaligus menegaskan perlunya riset lanjutan yang lebih besar dan lebih terstandar untuk memperjelas manfaat serta batasannya.

Create By : Admin
Artikel Lainnya