Masalah malanutrisi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka stunting nasional mencapai 21,6%, masih jauh dari target 14% pada tahun 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak kelompok masyarakat belum terpenuhi kebutuhan gizinya secara memadai, terutama anak-anak dan ibu hamil.
Dalam jurnal Student Scientific Creativity Journal edisi Maret 2025, tim peneliti dari Universitas Duta Bangsa Surakarta, Devina Adira Azzahra dan rekan, menegaskan bahwa salah satu upaya strategis yang bisa ditempuh untuk menurunkan angka malanutrisi adalah melalui optimalisasi pangan lokal yang bernilai gizi tinggi. Salah satunya adalah tempe, produk fermentasi kedelai yang sudah akrab di meja makan masyarakat Indonesia.
Menurut jurnal tersebut, tempe memiliki kandungan gizi yang luar biasa, terutama protein nabati sebesar 18–20 gram per 100 gram. Angka yang cukup tinggi. Hal yang membedakan tempe dengan kedelai biasa adalah proses fermentasinya menggunakan kapang Rhizopus oligosporus. Proses ini tidak hanya mengubah tekstur dan rasa kedelai, tetapi juga meningkatkan nilai biologisnya. Fermentasi terbukti dapat meningkatkan kadar protein hingga 40%, memperbaiki daya cerna, serta meningkatkan bioavailabilitas zat gizi penting seperti zat besi dan kalsium.
Dalam jurnal itu juga disebutkan bahwa fermentasi menurunkan kadar antinutrisi seperti asam fitat dan tanin, dua senyawa yang biasanya menghambat penyerapan mineral dalam tubuh. Sementara itu, keunggulan lain dari tempe adalah kandungan vitamin B kompleks (terutama B1, B2, B6, dan B12) serta isoflavon yang berperan sebagai antioksidan alami.
Vitamin B12 yang terdapat pada tempe merupakan hal istimewa, karena sangat jarang ditemukan pada bahan pangan nabati lain. Kehadiran vitamin ini membuat tempe berpotensi besar membantu mencegah anemia, terutama pada ibu hamil dan anak-anak. Penelitian yang dikutip dalam jurnal tersebut, seperti oleh Faidah dkk. (2019) dan Winarti dkk. (2024), menunjukkan bahwa konsumsi tempe secara rutin dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan memperbaiki berat serta tinggi badan anak-anak yang mengalami gizi kurang. Bahkan, fermentasi tempe dilaporkan mampu meningkatkan ketersediaan zat besi hingga 60% lebih tinggi dibandingkan kedelai yang belum difermentasi.
Dalam konteks penanggulangan malanutrisi, tempe menawarkan solusi yang tidak hanya bergizi, tetapi juga terjangkau dan mudah diperoleh. Tempe dapat menjadi sumber protein alternatif.
Kandungan asam amino esensialnya pun tinggi, sehingga konsumsi tempe secara teratur dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian tanpa menambah beban biaya rumah tangga. Selain itu, adanya kandungan prebiotik dan probiotik alami di dalam tempe turut mendukung kesehatan pencernaan, yang berperan penting dalam penyerapan nutrisi secara optimal.
Jurnal tersebut juga menyoroti keunggulan tempe sebagai pangan berkelanjutan. Dari sisi lingkungan, produksi tempe memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan sumber protein hewani.
Secara garis besar disebutkan bahwa tempe merupakan salah satu solusi pangan lokal paling potensial dalam menghadapi persoalan malnutrisi di Indonesia. Proses fermentasi menjadikan tempe lebih mudah dicerna, meningkatkan ketersediaan zat gizi penting, serta menyediakan sumber protein yang murah dan berkelanjutan.
Tempe adalah bukti nyata bahwa makanan tradisional Indonesia tidak kalah bernilai dibandingkan pangan modern. Dengan dukungan kebijakan dan kesadaran konsumsi yang lebih luas, tempe dapat menjadi bagian penting dari strategi nasional untuk membangun generasi yang lebih sehat, kuat, dan mandiri secara pangan.