
Fermentasi bukan sekadar cara membuat makanan lebih tahan lama, tetapi juga dapat meningkatkan nilai gizinya. Tanpa perlu menoleh ke kimchi dari Korea atau sauerkraut dari Eropa, Indonesia memiliki tempe, pangan fermentasi lokal yang kerap disebut sebagai superfood.
Beragam makanan fermentasi seperti tempe, yoghurt, dan kimchi telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner dunia. Fermentasi adalah proses alami ketika mikroorganisme mengubah karbohidrat menjadi alkohol, asam organik, dan gas. Mengutip laman IPB University, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa proses ini tidak hanya berfungsi untuk mengawetkan, tetapi juga membentuk karakter dan kualitas pangan.
Dalam konteks pangan, fermentasi turut mengubah rasa, aroma, dan tekstur makanan. Perubahan inilah yang menghasilkan cita rasa khas dan menjadikan makanan fermentasi digemari banyak orang.
Pada tempe, proses fermentasi melibatkan “komunitas” mikroorganisme yang kompleks. Tidak hanya kapang Rhizopus yang merekatkan biji kedelai, tetapi juga berbagai bakteri yang memengaruhi aroma, rasa, serta komposisi kimianya. Kombinasi ini membuat tempe memiliki nilai gizi dan karakter yang berbeda dari kedelai mentah. Artinya, keunggulan tempe tidak semata berasal dari protein kedelai, melainkan juga dari proses fermentasinya.
Mikroorganisme dalam makanan fermentasi juga diyakini berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh. Saat dikonsumsi, mikroba tersebut memberikan paparan antigen yang membantu sistem kekebalan tubuh mengenali ancaman dan merangsang pembentukan antibodi.
Keunikan lain tempe adalah kemampuannya untuk dikonsumsi tanpa pemasakan, dengan syarat diproduksi secara higienis dan sesuai standar keamanan pangan. Namun demikian, pengolahan yang berlebihan justru berpotensi merusak kandungan gizinya.
Dengan kekayaan mikroba alami dan proses fermentasi yang khas, tempe menunjukkan bahwa warisan kuliner lokal mampu menjawab kebutuhan gaya hidup sehat modern. Konsumsi makanan fermentasi bukan hanya upaya melestarikan tradisi, tetapi juga strategi alami untuk meningkatkan kualitas gizi dan daya tahan tubuh.
Bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan secara alami tanpa meninggalkan akar budaya, makanan fermentasi, termasuk tempe, layak menjadi pilihan utama.