Tempe untuk Lansia, Makanan Lokal yang Bisa Bantu Jaga Kesehatan Otak

Sumber Gambar : Foto ilustrasi: www.canva.com
Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai merasakan perubahan pada dirinya. Perubahan itu antara lain lebih mudah lupa, lebih sulit fokus, atau butuh waktu lebih lama untuk menemukan kata yang tepat saat berbicara.
 
Hal itu wajar terjadi, karena penuaan memang membawa perubahan biologis di otak. Salah satu faktor yang paling sering disebut dalam penelitian adalah meningkatnya stres oksidatif, yakni kondisi ketika sel-sel tubuh, termasuk sel saraf, lebih mudah mengalami kerusakan akibat radikal bebas. Pada lansia, stres oksidatif yang berlangsung lama berkontribusi pada penurunan memori dan kemampuan kognitif lainnya.
 
Sebagai upaya untuk menjaga kesehatan otak, pilihan makanan yang tepat jangan sampai terlewat. Salah satu yang menarik perhatian para peneliti belakangan ini justru makanan yang sudah akrab di meja makan orang Indonesia, yaitu tempe. Hal yang lebih menarik lagi, bukan hanya tempe kedelai saja yang diteliti, melainkan juga mixed tempe atau tempe campuran,  varian tempe yang dibuat dari kombinasi kedelai dengan bahan lain seperti biji bunga matahari, biji labu, dan kacang adzuki.
 
Penelitian terbaru yang dipublikasikan tahun 2025 di Frontiers in Nutrition menguji apakah mixed tempe bisa memberikan manfaat tambahan untuk menjaga fungsi kognitif pada lansia. Studi tersebut melibatkan 57 orang lanjut usia yang sudah menunjukkan tanda-tanda gangguan kognitif ringan. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok rutin mengonsumsi 100 gram tempe campuran setiap hari selama empat bulan, sementara kelompok lainnya mengonsumsi 100 gram tempe kedelai biasa. Selama periode itu, mereka tidak diperbolehkan mengonsumsi produk kedelai fermentasi lainnya agar pengaruh intervensi bisa diukur dengan lebih jelas.
 
Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi mixed tempe menunjukkan peningkatan pada tiga aspek penting: kognisi global; memori; dan verbal fluency atau kemampuan untuk berbicara dengan lancar, menemukan kata yang tepat, dan mengelola bahasa secara spontan. Sementara itu, kelompok yang mengonsumsi tempe kedelai biasa tetap menunjukkan perbaikan, tetapi manfaatnya terbatas pada aspek memori dan kemampuan visuospasial. Dengan kata lain, kedua jenis tempe sama-sama bermanfaat, tetapi mixed tempe memberikan jangkauan peningkatan yang lebih luas pada fungsi otak.
 
Apa yang membuat mixed tempe lebih unggul? Peneliti menduga jawabannya ada pada variasi nutrisinya. Kedelai sendiri sudah kaya protein, isoflavon, serat, vitamin, serta peptida bioaktif yang muncul akibat fermentasi. Ketika kedelai dipadukan dengan biji labu, biji bunga matahari, dan kacang adzuki, komposisinya menjadi lebih lengkap lagi. Seolah ini menyediakan “amunisi” ekstra bagi tubuh untuk menekan stres oksidatif dan menjaga sel-sel saraf tetap berfungsi optimal.
 
Selain itu, proses fermentasi turut meningkatkan kecernaan nutrisi dan menurunkan antinutrien. Fermentasi juga memproduksi peptida kecil yang punya aktivitas biologis, termasuk potensi antioksidan dan antiinflamasi. Kombinasi antara bahan yang kaya nutrisi dengan proses fermentasi inilah yang membuat tempe, terutama mixed tempe, memiliki karakter sebagai “makanan fungsional”, yaitu makanan yang manfaatnya melampaui sekadar memenuhi kebutuhan gizi dasar.
 
Bagi lansia yang ingin menjaga kesehatan otak, mixed tempe menjadi opsi yang sederhana, praktis, dan mudah diterapkan sehari-hari.
 
Tentu saja, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Jumlah pesertanya relatif kecil, durasi intervensinya pun singkat. Namun, sebagai titik awal, temuan ini menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan. Mixed tempe juga membuka peluang inovasi lebih lanjut dalam industri pangan lokal, tempe tidak harus selalu kedelai 100%, tetapi bisa diperkuat secara alami melalui kombinasi bahan-bahan nabati lain yang tersedia di pasar.
 
Pada akhirnya, makanan tradisional seperti tempe membuktikan bahwa solusi bagi kesehatan lansia tidak selalu harus datang dari teknologi canggih. Kadang, jawabannya ada di dapur sendiri. Dengan nilai gizi yang kaya, harga yang terjangkau, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai resep, tempe bisa menjadi bagian penting dalam pola makan lansia yang ingin menjaga ketajaman pikiran dan kualitas hidup di usia lanjut.

Create By : Admin
Artikel Lainnya