
Bumi, rumah kita bersama, cuma ada satu. Oleh karena itu, kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga hidup dan kehidupan kita sendiri, serta generasi-generasi berikutnya.
Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengelola sampah, yang kalau dibiarkan terus menerus malah bisa memicu masalah. Hal inilah yang antara lain dilakukan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung ke dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Program Studi (Prodi) Agroteknologi Fakultas Pertanian (FP) UNS.
Lewat Porpen Matewa, inovasi produk usaha baru di bidang pertanian, mereka membuka peluang pasar yang baik dan menjadi awal baru bagi mahasiswa pertanian untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan, bernilai ekonomis, dan sebagai peningkatan produktivitas hasil pertanian lebih baik lagi.
Hal itu sebagaimana dikatakan Okta Viana Faridaturrofiah, ketua tim, sebagaimana ada dalam www.uns.ac.id.
Masih dari sumber yang sama, Okta menyebutkan bahwa produk Porpen Matewa tersebut mengandung buah maja, limbah tempe, dan gula jawa. Buah maja sendiri mengandung nitrogen tinggi, zat pengatur tumbuh (ZPT), dan senyawa tanin sehingga dapat menjadi pupuk organik sekaligus pestisida nabati untuk melindungi tanaman dari serangan hama. Senyawa tanin memiliki rasa pahit jika bereaksi dengan protein, asam amino, dan alkaloid, sehingga rasanya yang pahit tidak disukai serangga yang menjadi hama pada tanaman.
Sementara itu, limbah tempe mengandung unsur hara N, P, dan K, yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Gula jawa merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme.
Porpen Matewa adalah produk 2 in 1, sebagai pupuk organik cair sekaligus dijadikan pestisida nabati dapat diaplikasikan pada semua jenis tanaman, terutama tanaman padi.
Proses alami dalam pembuatan tempe
Propen Matewa menambah daftar panjang nilai tambah tempe, dalam hal ini limbahnya yang digunakan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Tempe memang punya nilai tambah yang tinggi, proses pembuatannya pun alami.
Ya, sejak awal, tempe adalah makanan yang selaras dengan alam dan kehidupan manusia. Hal ini terungkap dalam wawancara dengan Forum Tempe Indonesia pada Maret 2022. Dalam wawancara itu terungkap beberapa hal antara lain: tempe dapat dikerjakan di dalam rumah tanpa harus membangun pabrik yang mungkin menghasilkan polusi.
Hal lain, proses pembuatan tempe merupakan kegiatan produktif yang menopang ekonomi rumah tangga.
Kalau menurut kamu, apa lagi nilai tambah tempe? Yuk, sharing! [*]