Tiada batas untuk kreativitas. Hal itu dibuktikan oleh Tri ‘Ulya Qodriyati, warga Grobogan, Jawa Tengah yang berkreasi membuat mi tempe instan beberapa waktu lalu.
Inovasi itu bermula dari keprihatinan Tri terhadap jumlah penderita kekurangan gizi kronis atau stunting (tengkes) di Indonesia.
Perlu diingat bahwa dalam jangka pendek, tengkes antara lain bisa mengganggu perkembangan otak dan pertumbuhan fisik. Sementara itu, dalam jangka panjang, persoalan kekurangan gizi bisa membawa dampak serius seperti terganggunya perkembangan kognitif, imunitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik. Pada akhirnya, saat anak yang mengalami tengkes sudah beranjak dewasa, ia akan memiliki produktivitas rendah dan bakal sangat sulit bersaing di dunia Kerja.
Oleh Karena itu, inovasi yang dilakukan Tri menjadi setitik terang untuk membantu mengatasi tengkes.
Mengutip humas.jatengprov.go.id, Tri mengatakan bahwa ide inovasi ini dari prevalensi angka stunting di Indonesia yang masih lebih tinggi dari organisasi kesehatan dunia (WHO). Oleh Karena itu dia membuatl produk mi tempe yang kadar proteinnya tinggi. “Harapannya, bisa membantu mengintervensi penurunan angka stunting," katanya.
Dijelaskan oleh Tri, bahan baku kedelai untuk mi tempe ini dipasok dari petani lokal Grobogan. Dari kedelai asli Grobogan yang non Genetically Modified Organisms (non GMS) ini, diproses menjadi tempe higienis, kemudian dijadikan tepung tempe di Technopark Grogoban.
Tri menambahkan, mi tempe ini sebenarnya turunan dari produk mi tek-tek yang sudah lebih dulu dibuatnya pada 2017. Mi tek-tek yang dibuatnya terdiri dari dua varian, yakni 100 persen mocaf dan campuran terigu dengan mocaf. Untuk produk mi tek-tek ini, pemasaran luringnya sudah dilakukan di beberapa daerah.
Apa yang dilakukan Tri tentu menambah daftar panjang inovasi tempe, dan manfaatnya yang bisa menjangkau lebih banyak orang. [*]