
Bukan baru-baru ini, tapi sudah sejak lama tempe dipercaya dan digunakan untuk membantu bermacam masalah kesehatan.
Sejak zaman penjajahan Belanda, misalnya, tempe bakar digunakan untuk membantu mencegah diare oleh masyaraat di perdesaan di Jawa. Hal ini sebagaimana ditulis dalam buku “Tempe – Kumpulan Fakta Menarik Berdasarkan Penelitian” karya F.G Winarno, Wida Winarno, dan A. Driando Ahnan Winarno.
Lebih lanjut dalan tulisan itu, sebuah penelitian yang dilakukan Roubos et al. (2010) dari Universitas Wageningen Belanda menunjukkan bahwa tempe mengandung zat yang bisa mencegah bakteri penyakit (Eschericia Coli/ETEC) menempel di dinding usus.
Omong-omong soal ETEC, ini adalah salah satu penyebab diare. Bakteri ini bisa menyerang manusia dengan cara menempel pada permukaan usus. Serangan inilah yang selanjutnya bisa memicu diare.
Mengutip theconversation.com, bakteri tersebut menempel pada sel usus manusia karena memanfaatkan karbohidrat sebagai ‘jangkar’ di sel usus. Karbohidrat pada tempe yang dihasilkan selama proses fermentasi ternyata memiliki struktur yang mirip seperti ‘jangkar’ karbohidrat yang ada pada sel usus manusia.
Struktur yang mirip ini dapat menyebabkan ETEC salah menempel di partikel tempe, bukan di permukaan usus. Sel-sel ETEC yang menempel pada karbohidrat tempe akan dengan mudah dikeluarkan dari sistem pencernaan.
Nah, kalau kita rajin mengonsumsi tempe, diharapkan cara ini bisa melindungi usus dari serangan diare pada masa mendatang. [*]