
Diabetes menjadi penyakit kronis dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Menurut IDF Diabetes Atlas pada 2021, 10,5% dari populasi dewasa (usia 20-79 tahun) menderita diabetes, dengan hampir setengahnya tidak menyadari kondisi mereka. Proyeksi IDF sendiri menunjukkan bahwa pada tahun 2045, 1 dari 8 orang dewasa, atau sekitar 783 juta orang.
Perubahan perilaku menjadi lebih sehat merupakan kunci untuk mencegah penyakit tak menular ini. Perilaku yang dimaksud antara lain membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, rutin beraktivitas fisik, tak merokok, rutin menjalani pemeriksaan kesehatan, dan mengonsumsi makanan sehat.
Pada September 2023, tersiar kabar baik bahwa seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ), Razandinta Tafshiilaa Lubna, berhasil meraih medali perak dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2023 yang digelar di Universitas Udayana, Bali, 16-19 September 2023 atas hasil inovasinya, tempe himetan.
Hasil riset Razandinta Tafshiilaa Lubna, atau yang biasa disapa Dinta, berhasil menemukan formula tempe yang dibuat dari tiga jenis kacang-kacangan yaitu kacang hijau, kacang merah, dan kacang tanah yang kemudian disingkat menjadi himetan. Formula dan inovasi tempe miliknya ini sudah mendapat medali dari berbagai kejuaraan internasional.
Dilansir laman resmi UMJ, menurut dosen pembimbing Dinta selama penelitian di FKK UMJ, dr. Resna Murti Wibowo, Sp.PD, FINASIM., M.Kes tempe himetan merupakan makanan yang dapat menjadi obat. “Prinsipnya apa yang dimakan menjadi obat. Jadi bukan percobaan ke manusia tapi seberapa manfaat makanan ini kepada manusia apabila dimakan?” kata Resna.
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan manfaat tempe himetan dengan obat-obatan diabetes melitus. Sebelumnya percobaan in vivo pada mencit atau tikus menunjukkan bahwa tempe himetan memiliki efek yang baik dan signifikan. Kemudian penelitian berlanjut secara in sillico, diuji coba lagi dengan membandingkan senyawa protein yang terkandung dalam tempe himetan.
Prestasi ini tentu tidak dicapai dalam waktu semalam. Sumber yang sama menyebutkan bahwa penelitian ini telah dilakukan sejak ia masih duduk di kelas 2 SMA pada 2018. Kesukaannya pada tempe menjadi salah satu dorongan bagi Dinta belajar membuat tempe sekaligus mempelajari kandungan gizi dan manfaat dari tempe. Jenis kacang-kacangan yang mudah ditemukan dan ketersediaan yang cukup banyak di Indonesia menjadi potensi dan peluang untuk memproduksi tempe.
Tidak hanya membuat tempe dari satu jenis kacang, Dinta mencampurkan ketiga jenis kacang yang diklaim memiliki manfaat mengurangi kadar glukosa darah. “Dari berbagai literatur itu maka saya berpikir, kenapa tidak dicampur saja 3 jenis kacang ini menjadi sebuah tempe? Saya rasa mungkin bagus dalam mengurangi kadar gula darah,” ungkap Dinta.
Inovasi ini membawa Dinta bisa meraih prestasi di berbagai ajang perlombaan internasional. Prestasi tersebut antara lain medali emas dalam Internasional Science Invention Fair di Denpasar, medali perak dalam Internasional Young Scientist Innovation Exhibition di Mandarin Malaysia pada 2019, serta medali emas dalam Indonesian Invention and Innovation Promotion Association di Taman Mini Jakarta pada 2019 (Special Award from Malaysia). [*]