
Dalam menilai sesuatu, kita pasti punya patokan atau tolok ukur.
Saat menilai seseorang, mungkin yang jadi tolok ukur adalah caranya berpakaian, gaya bicaranya, atau cara orang itu memperlakukan orang lain. Atau saat hendak memilih ponsel yang baik, mungkin yang jadi tolok ukur adalah ukuran layarnya, hasil jepretan kameranya, atau daya tahan baterainya.
Tolok ukur dalam penilaian-penilaian itu tentu bisa berbeda untuk setiap orang. Namun, dalam hal menilai tempe yang baik untuk dikonsumsi, tiga ciri ini harus dipenuhi.
Ciri pertama adalah permukaan tempe mesti tertutup oleh miselium kapang secara merata.
Miselium adalah jalinan benang halus jamur yang disebut hifa. Selain merata, kondisi miselium pada tempe semestinya kompak dan berwarna putih.
Ciri kedua pada tempe yang baik adalah antar-butiran kacang kedelai dipenuhi miselium dengan ikatan yang kuat dan merata. Dengan demikian, bila tempe diiris tidak menjadi hancur.
Ciri terakhir pada tempe yang dikatan baik adalah tidak menggunakan zat pewarna.
Nah, kalau tempe yang akan dikonsumsi sudah memenuhi tiga ciri itu, maka tempe bisa dikatakan baik untuk dikonsumsi.
(Artikel ini disadur dari presentasi berjudul “Proses Pembuatan Tempe” oleh Forum Tempe Indonesia)