
Perubahan iklim dan krisis lingkungan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dunia masa kini. Kita bukannya tak punya harapan untuk menghadapi tantangan itu, beberapa inovasi yang selaras dengan semangat keberlanjutan (sustainable) menjadi angin segar bagi masa depan manusia di seantero Bumi.
Dari kedelai, misalnya, yang identik dengan bahan makanan seperti tempe dan tahu, ternyata bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam industri. Diolah lagi menjadi minyak pelumas, pembersih ramah lingkungan, hingga produk kecantikan, kedelai menjadi sumber bahan baku terbarukan yang menggantikan produk berbasis minyak bumi yang semakin terbatas.
Baru-baru ini, di kota kecil Fredericksburg, Virginia, AS, ada solusi tak terbayangkan sebelumnya untuk mengatasi grafiti dengan bantuan produk berbasis kedelai. Hal itu bermula ketika Manajer Program Keselamatan untuk Kota Fredericksburg, Loren Kato, berjalan-jalan di sebuah pameran dagang beberapa tahun lalu. Saat itu dia melihat sesuatu yang tidak biasa, stan yang tampak menonjol di antara puluhan stan ikut pameran tersebut.
Dalam stan itu terpampang gambar ladang kedelai, menjadi latar belakang stan United Soybean Board (USB), yang memamerkan puluhan produk berbahan dasar kedelai. USB hadir bukan untuk menjual apa pun, melainkan untuk mengedukasi pengunjung tentang produk berbahan dasar kedelai. Bersifat terbarukan, produk berbahan dasar kedelai dapat menawarkan pilihan yang lebih berkelanjutan daripada produk berbasis minyak bumi.
Program BioPreferred dari Departemen Pertanian AS (USDA) menyatakan, “Produk berbahan dasar kedelai memberikan semua manfaat yang sama dengan produk konvensional: harganya terjangkau, mudah didapat (dibuat oleh perusahaan kecil dan korporasi besar), dan berkinerja sama baiknya atau bahkan lebih baik daripada produk yang mengandung minyak bumi.”
Dikisahkan dalam www.soybiobased.org, Kato pun tertarik dan berbincang dengan perwakilan USB mengenai rangkaian produk pemeliharaan fasilitas berbasis kedelai. Ia juga mengetahui bahwa selain manfaat lingkungan, produk-produk ini turut mendukung lapangan pekerjaan di Amerika Serikat.
Singkat cerita, beberapa waktu kemudian Kota Fredericksburg berencana untuk membersihkan beberapa tembok dari grafiti. Namun, masalahnya ada dua. Pertama, cat semprot tersebut disemprotkan ke bebatuan granit di dekat Sungai Rappahannock. Karena lokasinya yang sensitif terhadap lingkungan, staf kota khawatir limpasan produk akan berdampak pada ekosistem sungai. Kedua, beberapa grafiti bertanggal tahun 1996 dan para pelaku vandalisme berulang kali mengecatnya, sehingga sangat sulit untuk dihilangkan.
“Kami mencari produk ramah lingkungan yang dapat digunakan di dekat air tanpa limpasan yang membahayakan ikan atau dedaunan di sepanjang tepi sungai,” kata Kepala Dinas Pertamanan dan Pemeliharaan Kota Fredericksburg, Aaron Simmons saat itu. “Kebanyakan penghilang grafiti mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat membahayakan lingkungan.”
Kato kemudian teringat produk-produk berbasis kedelai yang ia pelajari di pameran dagang. Setelah melakukan riset, ia menemukan Blue Bear Graffiti Remover, yang diproduksi oleh Franmar, sebagai produk yang dapat membantu mereka menyelesaikan pekerjaan dengan aman. Ia menghubungi perusahaan tersebut dan mereka memberinya produk untuk dicoba pada permukaan berbeda.
Hasilnya di luar dugaan. Proyek pembersihan grafiti yang semula dijadwalkan 90 hari selesai hanya dalam tiga hari. Area yang dibersihkan setara dengan satu acre (sekitar 4.000 m²). Produk berbasis kedelai itu bekerja lebih cepat dan lebih baik dibanding pembersih kimia lain yang pernah dicoba. Prosesnya sederhana: produk disemprot, didiamkan sekitar 20 menit, digosok dengan sikat, lalu dibilas menggunakan mesin cuci tekanan tinggi. Untuk bagian yang sudah dilapisi cat sejak 1996, hanya diperlukan dua kali aplikasi. Setelah itu, batu-batu kembali bersih tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem, tidak ada ikan mati atau tanaman yang rusak.
Kisah Fredericksburg menunjukkan bahwa kedelai membuktika
n dirinya mampu menjadi solusi yang kuat menghadapi tantangan besar sekaligus memberi harapan bahwa keberlangsungan (sustainability) bukanlah sebuah mimpi.