
Pada manusia, setidaknya dalam kurun 100 tahun terakhir, kita mengenal ada enam generasi atau orang yang kira-kira hidup dan tumbuh dewasa pada waktu yang sama. Bukan cuma manusia, mungkin tidak banyak yang tahu kalau dalam kurun lebih dari 200 tahun tahun sejak ditulis dalam Serat Centhini, tempe sudah punya tiga generasi.
Generasi pertama manusia disebut generasi tradisionalis, atau ada juga yang menyebut silent generation. Mereka yang masuk dalam generasi ini adalah yang lahir pada masa great depression (depresi besar) pada tahun 1920-an hingga 1940-an, saat di mana terjadi krisis ekonomi global di seluruh dunia. Bukan cuma itu, generasi ini juga jadi saksi atas beberapa peristiwa besar seperti Perang Dunia II.
Generasi kedua manusia adalah baby boomers, yang lahir pada 1940-an hingga 1960-an. Pada masa ini, angka kelahiran meningkat pesat menyusul kondisi yang membaik dan perang yang berakhir.
Generasi ketiga manusia adalah generasi X, nama yang konon berasal dari novel “Generation X: Tales for an Accelerated Culture” karya Douglas Coupland. Dibandingkan generasi sebelumnya, salah satu ciri yang menonjol dari generasi yang lahir antara tahun 1960-an – 1980-an ini adalah hidup yang lebih seimbang antara dunia kerja dan kehidupan pribadi. Generasi ini juga sudah mulai mengenal komputer.
Generasi keempat manusia adalah generasi milenial atau generasi Y, lahir pada 1980-an hingga akhir 1990-an. Generasi digital native pertama ini kental dengan solidaritas, kolaborasi, dan eksistensi diri. Selain tumbuh dengan teknologi yang semakin maju, generasi ini juga tumbuh di tengah semakin matangnya nilai persamaan antar-manusia.
Generasi kelima manusia adalah generasi Z, yang lahir pada akhir 1990-an. Dikenal sebagai generasi yang internet savvy, generasi Z sangat lekat dengan internet dan media sosial. Mengutip “Femina”, merekalah generasi yang menjadi target market utama hampir semua bisnis berbasis digital, karena label mereka sebagai generasi ‘screen addict’.
Generasi keenam manusia adalah apa yang kita kenal dengan generasi alpha yang lahir pada 2010 hingga kini.
Generasi pada tempe
Jika generasi pada manusia dibedakan atas waktu lahir dan tumbuh, generasi pada tempe dibedakan atas produk-produk olahan tempe. Sejak tercatat dalam Serat Centhini (1814), kumpulan tulisan Raja Pakubuwono V abad XVI, tempe setidaknya dibagi atas tiga generasi berikut ini (sumber: Forum Tempe Indonesia).
Tempe generasi 1 merupakan produk olahan tempe yang masih banyak mengandung sifat khas tempe, yaitu rasa, aroma, bentuk, dan warna tempe. Produk tempe generasi 1 yang telah dikenal masyrakat dan mudah dalam pembuatannya antara lain adalah keripik tempe, tempe bacem, dan sambal goreng tempe.
Selanjutnya tempe generasi 2, yang merupakan produk olahan tempe yang sudah banyak berkurang sifat khas tempenya, tapi cita rasa tempe masih melekat. Tempe generasi ini diolah terlebih dahulu menjadi tepung yang dapat dicampur dengan bahan lain dalam pengolahannya, membentuk produk baru yang jauh dari kesan tempe. Tempe generasi ini punya kelebihan antara lain memudahkan dalam diversifikasi masa simpan lebih lama, dan mudah dalam distribusi.
Sementara itu, tempe generasi 3, sebagaimana ada dalam akun Facebook MyTempe adalah senyawa bioaktif yang diisolasi dari tempe yang kemudian digunakan sebagai suplemen atau sebagai penguat makanan lain. Tempe yang terlalu matang bisa dalam bentuk penggunaannya untuk membuat kecap, tauco, atau bumbu lainnya. [*]